Imagine there's no your girl, so it's happy if you try


Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 September 2014

hari ini dan mungkin nanti

hari ini mungkin nanti
ia masih dipuji karna masih memberi
dijilati sana... oh juga di sini
apakah mungkin tupai akan terus menari
bila pokok kayu sudah tak berdiri
aku masih disini bersama sang api sunyi
bersamamu sampai nanti

Jumat, 27 Juli 2012

Doa dalam Lagu

Ibuku karena engkau merahimiku
Merendalah tenteram karena besarlah anakmu

Ayahku karena engkau menatahku
Berlegalah di kursi angguk laki-laki anakmu

Tuhanku karena aku karat di kakiMu
Beri mereka kesejukan dalam dan biru.
 Taufik Ismail
1953

Minggu, 01 Januari 2012

KOTA MADINAH, KOTA NABI-KU (Renungan bagi mereka yang telah merayakan ‘Tahun Baru’)

”Kota Madinah, Kota Nabi-Ku ”
Bukan kekayaan minyak dan riyalmu…
Yang menjadikan dirimu sebagai kota ilmu…
Bukan pula kekuatan kerajaanmu…
Yang membuat mu menjauh dari malam Tahun Baru…
Akan tetapi karena ilmu nubuwwah yang terpancar darimu…
Sehingga Allah menjagamu dari segenap kejelekan yang datang menganggu…
Sungguh menakjubkan dirimu bagi diriku…
Tidak sebuah petasan-pun yang terdengar dari mu…
Tidak pula bunyi terompet terdengar di telingaku…
Padahal di penjuru dunia merayakan malam
“Tahun Baru”…
Namun dirimu tetap kokoh menjunjung tinggi
prinsip Nabi-mu .
Tidak ada satupun tanda-tanda Perayaan Tahun Baru…
Seolah hari ini sama dengan hari-hari yang telah berlalu…
Ku-katakan begitu agar mereka tahu…
Bahwa dirimu merupakan panutan bagi negeri-negeri di segenap penjuru.
Aku berdoa kepada Allah Yang Maha Tahu…
Agar menjadikan negeri-ku Indonesia seperti
dirimu…
Yang menjunjung tinggi ajaran Nabimu…
Dan menjauhi segala bentuk perayaan musuh-musuh agama-mu .
Renungan bagi mereka-mereka yang telah
merayakan Tahun Baru…
Demikianlah gambaran kota Nabi-Mu di Malam yang telah berlalu…

copas dari http://aasiraj.wordpress.com/2012/01/01/kota-madinah-kota-nabi-ku-renungan-bagi-mereka-yang-telah-merayakan-tahun-baru/# more-675

Senin, 05 Desember 2011

MANGKUTAK DI NEGERI PROSALIRIS

KESUKUAN DAN LIRISISME “PAPA” :

SEKUMPULAN PUISI MANGKUTAK DI NEGERI PROSALIRIS



Oleh : Andhika Dinata





“ketika penyair menyatukan dirinya dengan alam sambil berdialog, kemudian terjadi keakraban. Batinnya luluh jadi alam itu sendiri. Ia jadi alam itu sendiri”.

-- Rusli Marzuki Saria





MANGKUTAK adalah sebuah tokoh kaba Minangkabau yang populer dalam cerita rakyat “Sabai Nan Aluih”. Mangkutak adik bungsu Sabai, seorang bujang pemalas, kerjanya setiap hari bermain layang-layang. Kehadiran Mangkutak telah dikaba-beritakan, dipentaskan dalam banyak tradisi dan pertunjukan. AA Navis, Wisran Hadi, Hamid Djabbar bisa disebut tokoh budaya yang paling gemar melakonkan “Mangkutak” dalam epika karyanya. Nah, penyair Rusli Marzuki Saria juga turut meramaikan ikon Mangkutak, tokoh kaba Minangkabau yang cukup tersohor itu. Lewat karya puisinya Rusli memberi cerminan bahwa Mangkutak layak diekstradisi ke dalam tokoh prosais. Lewat itu pula ia meretas buah karya “Mangkutak di Negeri Prosa Liris”.



Dalam bait puisi Rusli berniat melanjut dan memuat kaba Mangkutak dalam larik puisi. Intensitas Mangkutak yang ditokohkan tak sedikitpun berkurang. Sosok Mangkutak tetap digambar sebagai tokoh yang gemar bermain layang-layang, pagi sore menghabiskan waktu di teras halaman, mabuk kuda melajang bukit di terik nan siang. Nah, kekuatan ide –dengan tidak mengurangi keasliannya– diraba, disorot, diasah Rusli dalam puisinya itu. Kehadiran Mangkutak yang semula menjadi ikon tokoh yang “pincang karakter” ditaja dalam sudut pandang berbeda. Hadirnya Mangkutak digambarkan sebagai tokoh periang, jenaka, dan inspiratif.

aku simangkutak pulang petang. setelah bermain layang
layang
seharian. awan kelabu terbang rendah di kaki perbukitan
nun
di sana. lama kucari jejak di pematang gelanggang
alangkah
ramai
 semusim tuak tua semusim aduayam silangkaneh
alangkah
ganasnya
sabai, sabai..., sabai...
.........................

 [“mangkutak”, 1997]



Hadirnya Mangkutak yang hantu layang-layang menyimbolkan sesosok muda yang tangkas, penuh kegairahan, acuh dari kegundahan, dan belenggu persoalan. Entah dalam tatanan realita sosok itu ada atau tidak, namun kehadiran Mangkutak di Negeri Prosaliris sepertinya menarik untuk dibahas.

*
Kesukuan dan lirisisme sajak-sajak Rusli lebih banyak berbincang pada suara alam: ringkik kuda, padang ilalang, rona hutan dan kebun sawit. Kedekatannya dengan alam dipetik dari falsafah Minangkabau “Alam Takambang Jadi Guru”. Alam yang lebar tercipta untuk dimaknai hadirnya, diresapi karsanya, direlung batinnya. Corak lirik yang ditulisnya tidak tanggal dari tradisi dan unsur-unsur “keminangan”. Membaca sajak-sajaknya seperti menyibak alam Minangkabau. Keindahan sawah nan lapang, lurah nan dalam, alam nan lebar, bukit nan tinggi.

gelagah padang ilalang
jauh mata memandang sawah lapang
gumam tengahhari matahari terik
rambutmu tergerai pantun menyimpan larik

[“gelagah padang ilalang”, 1998].

Membaca sajak-sajaknya juga seperti menggerus sejarah masa lampau. Kenangan yang lalu, tembang yang syahdu.

mengembara di setiap lembah
tanah airku
tanah airmata bunda
kutimba airmu di telaga jernih gunung
musim datang berganti
kau juga setia berdiri dekat kandang
aku rindu jenderal soedirman yang ditandu
membaca lagi laporan dari banaran
surat-surat dari naira
renungan indonesia sjahrazad
di bawah bendera revolusi
madilog yang lahir dari minangkabau masa lampau
.........................

 [“rindu one jo abak”, 2002]

Ciri khas dari Rusli yaitu penggambaran sajak yang dekat dengan diri-nya. Rusli bercerita, berkaba, menata tembang pengalaman dari halaman ke halaman. Ia menyimak musim, menantang matahari, bergumul di hutan, bernyanyi di pematang: menyatu dengan alam. Dari alam itu ia memungut kata. Dari kata terpijarlah estetika. Kata dan estetika sengaja dicari dan dikembangkan lewat nalar kreatif. Intuisi penyair. Nyaris tak ada batas antara penyair – alam – dan intuisinya itu. Rusli membuka jarak lebar-lebar dengan alam dan apa yang ada di dalamnya. Hadir di kebun sawit ia menulis “aku rindu bansi menjerit di kebun sawit”, bergumul di hutan ia menulis “kau kijang aku rusa”, menyoal sengketa ulayat ia menulis “seorang petani membawa luka”, di meja hidang sekalipun ia menulis “meja makan malam kedai nasi padang”.Sajak-sajaknya berumah dan melimbubu dari teks situasi, imaji, dan pengalaman-pengalaman itu.

“di negeri prosa liris” (1999) ia bergumam enam puluh tiga tahun usia, dan kata, baginya, terbungkuk membawa beban pengertian. Arus modernisasi telah merambah ladang, sawah, dan hutan si mangkutak. Pelan dan perlahan kemajuan pola pikir dan arus modernisasi menjelma pagoda raksasa yang tak lagi dapat dibendung. Angka statistika penduduk bergerak linear berderet-berjejer-berputar sepanjang waktu. Populasi orang memadat dan mendesak dalam ruang. Dan si “mangkutak” yang telah terjamah era moderat tetap hadir sebagai sosok yang rindu bunyi saluang dan rabab. Ia tak tergusur roda zaman, angin globalisasi, kemajuan ekonomi, dan modernisasi yang canggih dan hebat.

di negeri prosaliris aku bergumam enampuluhtiga
tahun dan kata
kata terbungkuk membawa beban pengertian
nenekmoyangku
teruka ladang dan sawah industri entah di mana. lalu
engkau
menghafal buku buku ekonomi negara maju dalam
semalam acara
global masuk kamar lewat televisi. kamar kamar
sumpek bagai
sarang kepuyuk seperti ratusan juta penduduk negeri
ini. barangkali tuan malthus saja tersenyum
di negeri prosaliris aku bercinta dengan seksama lalu
jadi
sentimentil pada saluang dan rabab
.........................

 [“di negeri prosaliris”, 1999]

Dalam “aku tulis namamu” (1997) kita temukan rekaman imaji Rusli dari pengalaman hidup yang keras dan cadas. Sebagai mantan perwira polisi (Brimob) ia akrab dengan desis suara bazooka memecah panser di medan pertempuran. Rusli muda juga pernah merasakan getirnya perjuangan, suasana militer yang mencekam, namun sarat makna persaudaraan. Rekam peristiwa historik itu diurainya dalam snapshot ini.

aku tulis namamu dalam simbolik zamanku yang berat
di penghujung abad ke-20 sebentar lagi tamat
denyut jantung erangan nafas dan mata pemberontak
terbeliak di tapal batas kehidupan sehari-hari yang berat
aku kenal kamu di benteng terakhir perang saudara
ketika peluru bazooka memecah panser di lembah itu
.........................

[“aku tulis namamu”, 1997]

**
 “belajar duduk seperti alif bata” kita menyibak aspek ruhani sufistik. Sajak seperti ini mengingatkan kita pada karya besar sufi Jalaluddin Rumi dan Farid al-Din Attar. Rusli bertasawuf diri lewat karya puisi. Tasawuf diartikannya sebagai inti hakikat. Ia ingin duduk seperti alif: duduk-berdiri. duduk-berucap, duduk-bersujud, duduk-membumi, duduk-melebur dengan Yang Maha Esa, pemilik Cinta Yang Agung.  Rusli merindu semua itu, ia ingin merelung, melepas diri dari belenggu menuju alam kesejatian.

belajar duduk
seperti alif bata
menghadap mihrab

ambil pisau
putus tali tali
pisahkan
rohani
manusiawi.


 [ “belajar duduk seperti alif bata”, 1982]

Sajaknya yang lain “dari musdalifah bergetar perjalanan malam” ditulisnya dalam perjalanan spiritual menuju mina-musdalifah-arafah. Ia menulis di saat terik matahari membakar kulit membungkus api perjalanan. Tak ada yang tersisa selain kata: lelah dan lelap.

dari musdalifah bergetar perjalanan malam
mengikuti jejakmu menuju mina yang terbakar
bintang gemintang langitmu biru aku seperti tidak tahu
pada lelah. batinku terbakar diembus nafasmu berabad
abad
datang menjelang leluhur kami di timur namanya sumatera
terlintas syari’ati mendaki bukit bukit batu yang tidak
pernah
takluk. adabiah al adabiyah telekung ganih zaman
sangsai
.........................

[“dari musdalifah bergetar perjalanan malam”, 1997]

Rusli dengan kenangan dan tembang-tembangnya menyisir pantai, menyibak rumah-rumah kehidupan. Ia luluh dalam gelap. memancar dalam terang. menggetar dalam dentuman, menghanyut dalam renungan. Dalam gelap, dalam terang, dalam dentuman, ia memuisi dan merona, berjibaku dengan monolog-monolognya itu. Kita lihat pada bait

aku ingin benar melupakanmu. di gelap cahaya
dan angin menusuk lambungku ngilu. sebuah drama
tragik aku ingin lusuh bersamanya. tempohari aku
betul rapat denganmu seperti daging dengan kuku
lalu kita berbenah dan berumah di pantai sana
.........................

 [ “aku ingin benar melupakanmu”, 1999]


Sajak yang ditulis di usia senja tak menunjukkan penurunan kualitas atau kadar kebernasan. Rusli sama sekali tak menunjukkan “kepapaan” dalam menulis dan berkarya. Bahkan di sela kesenjaannya ia masih bisa mengukir lirik romantik seperti dalam “aku bayangkan kamu” (1998).

aku bayangkan kamu di tingkat dua
kamar perpustakaanku
beranda senjahari
angin lindap terlintas
rambut nafasmu sesak sampai batas
cakrawala jauh
cerca terpaan paling terkena dalam hidup kita
ketika sebuah kejujuran terungkap jendela terbuka
kita diam. menarik diri masing-masing
.........................

atau bait “aku mengenangmu kembali di suatu pagi” (2007)

aku mengenangmu kembali di suatu pagi
kemarau barangkali kan panjang karena kulihat
awan memanjang
pematang kita yang lurus jemarimu yang kurus
adakah igau dalam kokokayam penghabisan
erang nafasmu sepanjang subuh gemintang
.........................

“ketika penyair menyatukan dirinya dengan alam sambil berdialog, kemudian terjadi keakraban. Batinnya luluh jadi alam itu sendiri. Ia jadi alam itu sendiri”. Rusli benar-benar membatin dalam filosofinya itu. Tak banyak yang setia berkarya hingga terus dan lama. Ia salah satu yang tetap ada. Adanya “Papa” Rusli Marzuki Saria di perpuisian nusantara telah menorehkan warna bahwa dunia puisi dan persajakan tak harus lengang dari prinsip-prinsip kebudayaan. Ia (justru) hadir untuk meramaikan khazanah budaya lengkap dengan unsur-unsur pengayaan yang ada di dalamnya.

Sebagai penyair Minang, Rusli telah berhasil mengangkat tatanan tradisi dan “keminangan” yang kuat. Lewat tema yang bergumul pada “Mangkutak” dan “Parewa”, Rusli bercerita, berkaba, menata tembang pengalaman dari halaman ke halaman. Ia menyimak musim, menantang matahari, bergumul di hutan, bernyanyi di pematang: menyatu dengan alam..

***

HALUAN, 04 Desember 2011

Nb : gelar "Parewa" biasa ditujukan  pada sampah masyarakat ( pemabuk, penjudi dan sebagainya )

Selasa, 08 November 2011

Jabberwocky Song ( Alice in Wonderland )


Twas brillig, and the slithy toves
Did gyre and gimble in the wabe;
All mimsy were the borogoves,
And the mome raths outgrabe.

"Beware the Jabberwock, my son!
The jaws that bite, the claws that catch!
Beware the Jubjub bird, and shun
The frumious Bandersnatch!"

He took his vorpal sword in hand:
Long time the manxome foe he sought—
So rested he by the Tumtum tree,
And stood awhile in thought.

And as in uffish thought he stood,
The Jabberwock, with eyes of flame,
Came whiffling through the tulgey wood,
And burbled as it came!

One, two! One, two! and through and through
The vorpal blade went snicker-snack!
He left it dead, and with its head
He went galumphing back.

"And hast thou slain the Jabberwock?
Come to my arms, my beamish boy!
O frabjous day! Callooh! Callay!"
He chortled in his joy.

'Twas brillig, and the slithy toves
Did gyre and gimble in the wabe;
All mimsy were the borogoves,
And the mome raths outgrabe.

Sabtu, 16 Juli 2011

kenanga

lihatlah ini nasibku
peras air mata basahi jemariku
jari jari yang mencakar awan awan beku
hingga luka kaku membatu
anginpun berbisik merayu
aku diam saja, tertunduk malu

wahai kenanga
inilah langit jinggaku
didihkan darahku
rebus jantung dan hatiku
saat diri mu berlalu dan menjauh

hilang tatapan tajam matamu
tiada harum rambut hitammu
bahkan senyumanmu yang dikulum
walau kau tak pernah tersenyum pada ku

sebenarnya entah apa yang ku cari
aku cuma menunggu, kesempatan itu
aku cuma menunggu, senyum manismu
kenanga

Minggu, 10 April 2011

mantra patah hati

baringin bakaik kaik
Daun no sarang rangik
Batuah no dari langgik
Jiko cinto dak bakaik
Gasiang tangkurak dirakik
Jundai nan manjampuik

Minggu, 06 Februari 2011

hari pertama kerja

Aku terbangun dan memulai
Untuk mendengarkan teriakan
Seekor burung hantu lusuh, dari tempat nan jauh.
Tapi entah apa, entah sesuatu. Menunggu di kaki tempat tidur ku
Seolah-olah menunggu aku bangun
Dari semua penderitaan.
"Ayo, mari kita pergi "
Dia bilang dengan suara dingin,
mengabaikan mata mengantuk saya.
"Ayo, sebelum cahaya fajar atas hidup kita,
Mari kita mengubur kenangan kita "
Aku menyelinap kembali ke tidur saya
Sementara ia masih bergumam sesuatu.
O..ya hari ini aku harus pergi kerja

Rabu, 12 Mei 2010

Als waffe


Lange nicht gesehen
mir konnt es vor als hatte ich lange geschlafen
ich mich endlich wieder erholt

jetzt kann ich meine
krafte beliebig einsetzen
also fengen wir an waffe
mit der reche an der welt

die uns erschaffen hat

Minggu, 18 April 2010

Untukmu dewi (limumu versi)


Campak aku!
Di belantara beludru
antara duri nan paku
kasih mu
seribu malu

telah hisap tetes darahku
nan tak semanis madu

telah robek jantungku
oleh taring mu
selum tiriskan empedu

diatas tungku yang telah mendidihkan air mata akan acuhnya sikap mu

dikau lah dewiku
nan torehkan jingga di ufuk barat
dan siram darah saga di ufuk timur

sedang aku, makhluk dungu yang diterbangkan angin
dan terpaut di lembutnya paras mu
namun dingin dan membatu

alangkah bodohnya aku mencintaimu

Kamis, 04 Maret 2010

printemps a été rempli

Est entre le printemps
Intentionnellement ou non
Vous devez lui gouttes de poison
Maintenant, il est devenu de fleurs séchées le vent a soufflé être

Peut-être que l'amour ne meurt jamais
Jusqu'à la fin du temps

Rabu, 17 Februari 2010

Bink's Sake

Yohohoho, Yohohoho!
Yohohoho, Yohohoho!
Yohohoho, Yohohoho!
Yohohoho, Yohohoho!

Binks no sake wo
Todokeni yuku yo
Umi kaze ni makase
Nami makase
Shioro no mukou e
Yuhi wo sawagu
Sora nya
Wao kaku tori no uta
Sayonara minato
Tsumugi sata yo
DON to ichou utao
Funade no uta
Kinpa-ginpa mo
Shibuku ni kaete
Oretachi yuku so
Umi no kagiri

Binks no sake wo
Todokeni yuku yo
Warera kaizoku
Umi wateku
Nami wo makura ni
Negura wa fune yo
Honi hatani
Ketateru wa dokuro
Arashi ga kita so
Senri no sora ni
Nami ga odoru yo
DRAMA narase
Okubyou kazi ne
Fukakerya saigo
Asu no asashi
Ga nai ya nashi

Yohohoho, Yohohoho!
Yohohoho, Yohohoho!
Yohohoho, Yohohoho!
Yohohoho, Yohohoho!

Binks no sake wo
Todokeni yuku yo
Kyuoka asu ka
Toyoi no yume
Te wo furu kage ni
Mou aenai yo
Nani wo kuyo kuyo
Asu mo tsukuyo

Binks no sake wo
Todokeni yuku yo
DON to icho utao
Unaba no uta
Douse dare demo
Itsuka wa hone yo
Hate nashi ate nashi
Waraiba nashi

Yohohoho, Yohohoho!
Yohohoho, Yohohoho!
Yohohoho, Yohohoho!
Yohohoho, Yohohoho...!

Kamis, 11 Februari 2010

Surya tenggelam

Saat luka menyentuh jingga
biaskan biru sang surya
dan mencabut sukma
dari tubuh tampa nyawa

bila duka tiada habisnya
hinga diri enggan menyapa
sejumput lantunan kata
walau bisikan cinta

ah... ini sungguh gila
tenggelam nista
mengubur cita
hingga dia tak menatap bangga

oh jingga
sebelum kelam menutup dunia
dan aku tinggal nama
ijinkan aku menatapnya

Kamis, 04 Februari 2010

aahhh....!

voulez voir la nuit lumineuse
Le magnifique soleil de la
Vous voulez marcher, mais pas le pouvoir
Réalisez le rêve de stained dense tache

Chansons mettent monde naturel
Dévoiler le monde de la couleur
Une vague de froid océan
entendre le murmure intérieur

Stertorous percer le coeur sensible
Connectez nostalgique prudent jours
rêve, comme si la danse chant
taillé le long de l'espoir éternel

Senin, 04 Januari 2010

Etes-vous conscient

Je ne pleure pas ...
car il n'y a plus de larmes ...
Je ne peux pas prier ...
car il n'y a plus de mots ...
Je ne suis pas d'essayer ...
parce qu'il n'a pas de pouvoir en savoir plus ...

pourquoi tu ne comprends toujours pas ...
ce que les sens pour vous ...
pourquoi vous n'êtes toujours pas au courant de ...
quelle est votre auto pour ...
pourquoi vous ne voyez toujours pas ...
que voulez-vous dire pour moi ....

Etes-vous conscient? comprendre? voir?
encore moins se sentir ??...
Je viens à pied à tous les jours avant le ...
J'ai été tellement simple ami pour vous ..
mais essayez de conscience, de comprendre, voir et sentir ...
que voulez-vous dire de moi ...

est ....
Je ne suis pas plus fort ...
excusez-moi si je reste sans voix ...
non pas parce que je suis fatigué ...
mais vraiment ...
soin de comprendre ce n'est pas votre cœur ...
cœur de cette limite a été atteint pour continuer à progresser ...
Ce coeur est de ne plus être le meilleur pour vous ...

mais que je laisse passer, passer ...
et je serai toujours là en attente dans le silence ...
encore que dois-je envisager de regarder ...
et, en fait, il est mieux pour vous ....

Senin, 23 November 2009

puisi yang hilang

aku hanya cerita
nan tertulis merah
walau bukan darah
antara tukak dan nanah

aku hanya ulir
nan terukir dalam kelam
atas wajan hitam legam
tempaan bara kejam

aku lah dendang
nan usang menua
hilang ditinggal masa
bahkan waktu mengutuk hina

namun sejumput angin
mengalirkan senyummu
dingin memang... membeku
tuak sang perayu
madu

denting palu-palu baja
coba memahat nama-nama indah
atas panasnya bara-bara rasa
walau hanya sesaat

lalu
akan selalu
ku lihat punggungmu
tak berani

selamanya

aku tetaplah aku
yang bersinar dalam gelapku
serta kepakan sayap-sayap beku
terbelenggu

ragu

Rabu, 18 November 2009

Hanya kau kah?

Terbaring, bumi memeluk
oh... Hangat
menjalar, membelenggu
sendi-sendi hati rapuh ku

hanya engkau
mengukung
atas mimpi-mimpi
setiap lambaiyan
akan manis senyuman

tapi
hanya engkau kah?
Menikam ku
meracuni tiap detak nya
hingga akhir nadi

hanya engkau
makhluk terindah
bagiku

Minggu, 11 Oktober 2009

gagak dan sayap kusam

Gagak kelam bersayap kusam
Dengan hangat panas disisinya
Atas debu dari baranya
Terasa mesti tak dimiliki

Gagak kelam bersayap kusam
Terang gelap hidupnya
Atas sepi dari malamnya
Kilau gemilau yang sepi

Gagak kelam bersayap kusam
Arus terus mengalir alamnya
Atas langkah langkah patahnya
Walau hidup bagai mati

Tak berani
Lompati bumi
Mesti sang waktu mengutuk
Pergi !!!

Senin, 28 September 2009

saat seorang anak menangis (white lion)

Anak kecil
Anda kering mata menangis
Bagaimana saya bisa menjelaskan
Anda merasa takut
'telah lahir
Ke dalam dunia ini jahat
Dimana manusia itu membunuh manusia
dan tidak ada seorangpun yang tahu mengapa hanya
Apa yang telah kita menjadi
Lihatlah apa yang telah kita dilakukan
Semua yang kami hancur
Anda harus membangun kembali

Bila anak menangis
Biarlah mereka tahu bahwa kami mencoba
'menyebabkan ketika anak-anak menyanyi
Kemudian kamu dunia baru dimulai

Anak kecil
Anda harus menunjukkan jalan
Untuk hari yang lebih baik
Untuk semua kaum muda
Bagi dunia untuk melihat
Bahwa kita semua dapat hidup
Dalam terang dan perdamaian

Tidak ada lagi presiden
Dan semua peperangan akan berakhir
Dunia bersatu di bawah satu Tuhan

Bila anak menangis
Biarlah mereka tahu bahwa kami mencoba
'menyebabkan ketika anak-anak menyanyi
Maka dunia baru dimulai

Apa yang telah kita menjadi
Lihatlah apa yang telah kita dilakukan
Semua yang kami hancur
Anda harus membangun kembali

Tidak ada lagi presiden
Dan semua peperangan akan berakhir
Dunia bersatu di bawah satu Tuhan

Bila anak menangis
Biarlah mereka tahu bahwa kami mencoba
'menyebabkan ketika anak-anak berkelahi
Biarlah mereka tahu itu tidak benar
Bila anak-anak break
Biarlah mereka tahu kami bangun
'menyebabkan ketika anak-anak menyanyi
Dunia yang baru dimulai

Kamis, 20 Agustus 2009

pioggia

Sia la pioggia sulla terra
umido sogno di tutti coloro che sono morti
Lasciate crescere, crescere, germogliare e
Tutti i fiori è il mio paese
Fredda pioggia rivivere noi
Abbiamo troppo strette
Il silenzio non è impotente domenica bruciare
Fino a quando non è in grado di coscienza agonized
voce forte speranza pioggia
si prende un bel cambiamento
Perché il mio paese, è ancora il mio paese
Cerco sempre di mantenere che non mi annoia

peta tamuku

Powered By Blogger