Di bawah gerbang batu yang diselimuti kabut, **Raka** melangkah sebagai seorang pendekar. Pedangnya tergantung di pinggang, jubahnya berkibar, dan wajahnya terlihat gagah—setidaknya sampai ia tersandung akar pohon tepat di depan dua istrinya.
“Pendekar hebat,” ujar **Laras**, tersenyum lembut. “Musuh belum datang, tapi akar sudah berhasil mengalahkanmu.”
**Maya** menahan tawa sambil membantunya berdiri. “Jangan mengejek terlalu keras. Nanti harga dirinya terluka.”
“Yang terluka lututku,” gumam Raka.
Ketiganya berjalan bersama menuju desa pegunungan yang sedang terancam kelompok bandit. Laras, dengan tatapan tajam dan gerakan secepat angin, membawa sepasang pedang pendek. Maya menggunakan kipas besi yang tampak anggun, tetapi mampu menjatuhkan tiga orang sekaligus. Sementara Raka memegang pedang panjang dan berusaha terlihat paling berwibawa di antara mereka.
“Kalau kita bertemu musuh,” kata Raka, “kalian berdua tetap di belakangku.”
Maya menambahkan, “Biasanya karena kau berjalan terlalu cepat tanpa melihat jalan.”
Raka menghela napas. “Pernikahan ini seharusnya memberiku dukungan.”
Malamnya, mereka beristirahat di sebuah rumah kayu di tepi hutan. Api unggun menyala hangat. Laras duduk di sisi kanan Raka, menyandarkan kepala di bahunya, sementara Maya di sisi kiri menyelipkan sehelai daun kecil dari rambutnya.
“Kau terluka,” kata Maya pelan, menyentuh goresan di pipi Raka.
“Luka kecil,” jawab Raka.
“Luka kecil?” Laras mengambil kain dan membersihkannya dengan hati-hati. “Kau hampir kehilangan alismu.”
“Itu bukan alis. Itu hanya… bagian wajah yang sangat dekat dengan alis.”
Maya tertawa, lalu mencium lembut pipi Raka yang tidak terluka. Laras ikut memberikan kecupan singkat di dahinya.
Raka terdiam, lalu tersenyum malu. “Kalian berdua sengaja membuatku sulit berkonsentrasi.”
“Memang,” ujar Laras.
“Kau terlalu serius saat menjadi pendekar,” tambah Maya. “Kami hanya mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang pedang dan pertarungan.”
Raka memandang keduanya dengan penuh kasih. Dalam perjalanan mereka, ia tidak pernah merasa sendirian. Laras adalah keberaniannya, Maya adalah ketenangannya, dan ia berusaha menjadi tempat pulang bagi keduanya.
Keesokan paginya, mereka menghadapi para bandit di tengah lapangan desa. Raka maju dengan gagah, Laras bergerak seperti bayangan, dan Maya melumpuhkan para penjahat dengan kipas besinya.
Dalam beberapa menit, pertempuran selesai.
Raka berdiri dengan pose kemenangan, pedangnya terangkat tinggi.
“Lihat!” serunya. “Aku berhasil mengalahkan pemimpin mereka!”
“Setelah Laras menjatuhkan kakinya,” kata Maya.
“Dan setelah aku membuatnya tersandung,” tambah Laras.
Raka menurunkan pedangnya. “Kalian bisa tidak membiarkanku menikmati momen kepahlawanan selama lima detik?”
“Bisa,” jawab mereka berdua bersamaan.
Lalu Laras dan Maya memeluknya dari kedua sisi. Raka tersenyum lebar, sementara seluruh warga desa bersorak melihat tiga pendekar yang berdiri bersama—bukan sebagai pasangan yang saling bersaing, melainkan sebagai keluarga yang saling melindungi.
Di tengah tawa dan tepuk tangan, Maya berbisik, “Kita akan menjadi legenda.”
Laras menatap Raka. “Asalkan dia tidak tersandung lagi.”
Raka memeluk mereka lebih erat. “Kalau aku jatuh, kalian pasti menangkapku.”
“Tidak selalu,” kata Laras.
“Tapi kami akan tertawa dulu,” sambung Maya.
Dan begitulah perjalanan mereka dimulai: tiga hati yang saling menyayangi, dua pedang, satu kipas besi, serta seorang pendekar yang lebih sering kalah oleh akar pohon daripada oleh musuh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar