Imagine there's no your girl, so it's happy if you try


Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Juli 2017

Lupa judulnya

Tak dengar, tapi ku melihat
tingginya gunung
dalamnya lembah
datangnya gelap
terbitnya terang
ku harap sinarnya tak membutakan mataku
meracuni otak ku
lalu dia pergi tampa permisi

ah...
Mulutku meracau lagi
ini cuma selimut mimpi
saat lelah dan berhenti
namun ku belum mati

...
...!
...?
Nah kau tau!
Kalau begitu!
Jaga rahasiaku!

Kamis, 01 Januari 2015

Mimpi "hai.."

Pagi ini
Melewatinya, menyilaukan

Dia bilang hai

Ribuan, oh.. bukan
Jutaan tangannya membelai ku

Dia bilang hai

Kaki kakinya
Ya... kaki kakinya menghantam
Menghujam, hentikan langkah

Dia masih bilang haii

Senyum
Sembunyikan taring
Serta kuku kuku

Dan
Aku bilang hai

Menulis untuk bintang

Selasa, 23 September 2014

hari ini dan mungkin nanti

hari ini mungkin nanti
ia masih dipuji karna masih memberi
dijilati sana... oh juga di sini
apakah mungkin tupai akan terus menari
bila pokok kayu sudah tak berdiri
aku masih disini bersama sang api sunyi
bersamamu sampai nanti

Jumat, 27 Juli 2012

Doa dalam Lagu

Ibuku karena engkau merahimiku
Merendalah tenteram karena besarlah anakmu

Ayahku karena engkau menatahku
Berlegalah di kursi angguk laki-laki anakmu

Tuhanku karena aku karat di kakiMu
Beri mereka kesejukan dalam dan biru.
 Taufik Ismail
1953

Senin, 05 Desember 2011

MANGKUTAK DI NEGERI PROSALIRIS

KESUKUAN DAN LIRISISME “PAPA” :

SEKUMPULAN PUISI MANGKUTAK DI NEGERI PROSALIRIS



Oleh : Andhika Dinata





“ketika penyair menyatukan dirinya dengan alam sambil berdialog, kemudian terjadi keakraban. Batinnya luluh jadi alam itu sendiri. Ia jadi alam itu sendiri”.

-- Rusli Marzuki Saria





MANGKUTAK adalah sebuah tokoh kaba Minangkabau yang populer dalam cerita rakyat “Sabai Nan Aluih”. Mangkutak adik bungsu Sabai, seorang bujang pemalas, kerjanya setiap hari bermain layang-layang. Kehadiran Mangkutak telah dikaba-beritakan, dipentaskan dalam banyak tradisi dan pertunjukan. AA Navis, Wisran Hadi, Hamid Djabbar bisa disebut tokoh budaya yang paling gemar melakonkan “Mangkutak” dalam epika karyanya. Nah, penyair Rusli Marzuki Saria juga turut meramaikan ikon Mangkutak, tokoh kaba Minangkabau yang cukup tersohor itu. Lewat karya puisinya Rusli memberi cerminan bahwa Mangkutak layak diekstradisi ke dalam tokoh prosais. Lewat itu pula ia meretas buah karya “Mangkutak di Negeri Prosa Liris”.



Dalam bait puisi Rusli berniat melanjut dan memuat kaba Mangkutak dalam larik puisi. Intensitas Mangkutak yang ditokohkan tak sedikitpun berkurang. Sosok Mangkutak tetap digambar sebagai tokoh yang gemar bermain layang-layang, pagi sore menghabiskan waktu di teras halaman, mabuk kuda melajang bukit di terik nan siang. Nah, kekuatan ide –dengan tidak mengurangi keasliannya– diraba, disorot, diasah Rusli dalam puisinya itu. Kehadiran Mangkutak yang semula menjadi ikon tokoh yang “pincang karakter” ditaja dalam sudut pandang berbeda. Hadirnya Mangkutak digambarkan sebagai tokoh periang, jenaka, dan inspiratif.

aku simangkutak pulang petang. setelah bermain layang
layang
seharian. awan kelabu terbang rendah di kaki perbukitan
nun
di sana. lama kucari jejak di pematang gelanggang
alangkah
ramai
 semusim tuak tua semusim aduayam silangkaneh
alangkah
ganasnya
sabai, sabai..., sabai...
.........................

 [“mangkutak”, 1997]



Hadirnya Mangkutak yang hantu layang-layang menyimbolkan sesosok muda yang tangkas, penuh kegairahan, acuh dari kegundahan, dan belenggu persoalan. Entah dalam tatanan realita sosok itu ada atau tidak, namun kehadiran Mangkutak di Negeri Prosaliris sepertinya menarik untuk dibahas.

*
Kesukuan dan lirisisme sajak-sajak Rusli lebih banyak berbincang pada suara alam: ringkik kuda, padang ilalang, rona hutan dan kebun sawit. Kedekatannya dengan alam dipetik dari falsafah Minangkabau “Alam Takambang Jadi Guru”. Alam yang lebar tercipta untuk dimaknai hadirnya, diresapi karsanya, direlung batinnya. Corak lirik yang ditulisnya tidak tanggal dari tradisi dan unsur-unsur “keminangan”. Membaca sajak-sajaknya seperti menyibak alam Minangkabau. Keindahan sawah nan lapang, lurah nan dalam, alam nan lebar, bukit nan tinggi.

gelagah padang ilalang
jauh mata memandang sawah lapang
gumam tengahhari matahari terik
rambutmu tergerai pantun menyimpan larik

[“gelagah padang ilalang”, 1998].

Membaca sajak-sajaknya juga seperti menggerus sejarah masa lampau. Kenangan yang lalu, tembang yang syahdu.

mengembara di setiap lembah
tanah airku
tanah airmata bunda
kutimba airmu di telaga jernih gunung
musim datang berganti
kau juga setia berdiri dekat kandang
aku rindu jenderal soedirman yang ditandu
membaca lagi laporan dari banaran
surat-surat dari naira
renungan indonesia sjahrazad
di bawah bendera revolusi
madilog yang lahir dari minangkabau masa lampau
.........................

 [“rindu one jo abak”, 2002]

Ciri khas dari Rusli yaitu penggambaran sajak yang dekat dengan diri-nya. Rusli bercerita, berkaba, menata tembang pengalaman dari halaman ke halaman. Ia menyimak musim, menantang matahari, bergumul di hutan, bernyanyi di pematang: menyatu dengan alam. Dari alam itu ia memungut kata. Dari kata terpijarlah estetika. Kata dan estetika sengaja dicari dan dikembangkan lewat nalar kreatif. Intuisi penyair. Nyaris tak ada batas antara penyair – alam – dan intuisinya itu. Rusli membuka jarak lebar-lebar dengan alam dan apa yang ada di dalamnya. Hadir di kebun sawit ia menulis “aku rindu bansi menjerit di kebun sawit”, bergumul di hutan ia menulis “kau kijang aku rusa”, menyoal sengketa ulayat ia menulis “seorang petani membawa luka”, di meja hidang sekalipun ia menulis “meja makan malam kedai nasi padang”.Sajak-sajaknya berumah dan melimbubu dari teks situasi, imaji, dan pengalaman-pengalaman itu.

“di negeri prosa liris” (1999) ia bergumam enam puluh tiga tahun usia, dan kata, baginya, terbungkuk membawa beban pengertian. Arus modernisasi telah merambah ladang, sawah, dan hutan si mangkutak. Pelan dan perlahan kemajuan pola pikir dan arus modernisasi menjelma pagoda raksasa yang tak lagi dapat dibendung. Angka statistika penduduk bergerak linear berderet-berjejer-berputar sepanjang waktu. Populasi orang memadat dan mendesak dalam ruang. Dan si “mangkutak” yang telah terjamah era moderat tetap hadir sebagai sosok yang rindu bunyi saluang dan rabab. Ia tak tergusur roda zaman, angin globalisasi, kemajuan ekonomi, dan modernisasi yang canggih dan hebat.

di negeri prosaliris aku bergumam enampuluhtiga
tahun dan kata
kata terbungkuk membawa beban pengertian
nenekmoyangku
teruka ladang dan sawah industri entah di mana. lalu
engkau
menghafal buku buku ekonomi negara maju dalam
semalam acara
global masuk kamar lewat televisi. kamar kamar
sumpek bagai
sarang kepuyuk seperti ratusan juta penduduk negeri
ini. barangkali tuan malthus saja tersenyum
di negeri prosaliris aku bercinta dengan seksama lalu
jadi
sentimentil pada saluang dan rabab
.........................

 [“di negeri prosaliris”, 1999]

Dalam “aku tulis namamu” (1997) kita temukan rekaman imaji Rusli dari pengalaman hidup yang keras dan cadas. Sebagai mantan perwira polisi (Brimob) ia akrab dengan desis suara bazooka memecah panser di medan pertempuran. Rusli muda juga pernah merasakan getirnya perjuangan, suasana militer yang mencekam, namun sarat makna persaudaraan. Rekam peristiwa historik itu diurainya dalam snapshot ini.

aku tulis namamu dalam simbolik zamanku yang berat
di penghujung abad ke-20 sebentar lagi tamat
denyut jantung erangan nafas dan mata pemberontak
terbeliak di tapal batas kehidupan sehari-hari yang berat
aku kenal kamu di benteng terakhir perang saudara
ketika peluru bazooka memecah panser di lembah itu
.........................

[“aku tulis namamu”, 1997]

**
 “belajar duduk seperti alif bata” kita menyibak aspek ruhani sufistik. Sajak seperti ini mengingatkan kita pada karya besar sufi Jalaluddin Rumi dan Farid al-Din Attar. Rusli bertasawuf diri lewat karya puisi. Tasawuf diartikannya sebagai inti hakikat. Ia ingin duduk seperti alif: duduk-berdiri. duduk-berucap, duduk-bersujud, duduk-membumi, duduk-melebur dengan Yang Maha Esa, pemilik Cinta Yang Agung.  Rusli merindu semua itu, ia ingin merelung, melepas diri dari belenggu menuju alam kesejatian.

belajar duduk
seperti alif bata
menghadap mihrab

ambil pisau
putus tali tali
pisahkan
rohani
manusiawi.


 [ “belajar duduk seperti alif bata”, 1982]

Sajaknya yang lain “dari musdalifah bergetar perjalanan malam” ditulisnya dalam perjalanan spiritual menuju mina-musdalifah-arafah. Ia menulis di saat terik matahari membakar kulit membungkus api perjalanan. Tak ada yang tersisa selain kata: lelah dan lelap.

dari musdalifah bergetar perjalanan malam
mengikuti jejakmu menuju mina yang terbakar
bintang gemintang langitmu biru aku seperti tidak tahu
pada lelah. batinku terbakar diembus nafasmu berabad
abad
datang menjelang leluhur kami di timur namanya sumatera
terlintas syari’ati mendaki bukit bukit batu yang tidak
pernah
takluk. adabiah al adabiyah telekung ganih zaman
sangsai
.........................

[“dari musdalifah bergetar perjalanan malam”, 1997]

Rusli dengan kenangan dan tembang-tembangnya menyisir pantai, menyibak rumah-rumah kehidupan. Ia luluh dalam gelap. memancar dalam terang. menggetar dalam dentuman, menghanyut dalam renungan. Dalam gelap, dalam terang, dalam dentuman, ia memuisi dan merona, berjibaku dengan monolog-monolognya itu. Kita lihat pada bait

aku ingin benar melupakanmu. di gelap cahaya
dan angin menusuk lambungku ngilu. sebuah drama
tragik aku ingin lusuh bersamanya. tempohari aku
betul rapat denganmu seperti daging dengan kuku
lalu kita berbenah dan berumah di pantai sana
.........................

 [ “aku ingin benar melupakanmu”, 1999]


Sajak yang ditulis di usia senja tak menunjukkan penurunan kualitas atau kadar kebernasan. Rusli sama sekali tak menunjukkan “kepapaan” dalam menulis dan berkarya. Bahkan di sela kesenjaannya ia masih bisa mengukir lirik romantik seperti dalam “aku bayangkan kamu” (1998).

aku bayangkan kamu di tingkat dua
kamar perpustakaanku
beranda senjahari
angin lindap terlintas
rambut nafasmu sesak sampai batas
cakrawala jauh
cerca terpaan paling terkena dalam hidup kita
ketika sebuah kejujuran terungkap jendela terbuka
kita diam. menarik diri masing-masing
.........................

atau bait “aku mengenangmu kembali di suatu pagi” (2007)

aku mengenangmu kembali di suatu pagi
kemarau barangkali kan panjang karena kulihat
awan memanjang
pematang kita yang lurus jemarimu yang kurus
adakah igau dalam kokokayam penghabisan
erang nafasmu sepanjang subuh gemintang
.........................

“ketika penyair menyatukan dirinya dengan alam sambil berdialog, kemudian terjadi keakraban. Batinnya luluh jadi alam itu sendiri. Ia jadi alam itu sendiri”. Rusli benar-benar membatin dalam filosofinya itu. Tak banyak yang setia berkarya hingga terus dan lama. Ia salah satu yang tetap ada. Adanya “Papa” Rusli Marzuki Saria di perpuisian nusantara telah menorehkan warna bahwa dunia puisi dan persajakan tak harus lengang dari prinsip-prinsip kebudayaan. Ia (justru) hadir untuk meramaikan khazanah budaya lengkap dengan unsur-unsur pengayaan yang ada di dalamnya.

Sebagai penyair Minang, Rusli telah berhasil mengangkat tatanan tradisi dan “keminangan” yang kuat. Lewat tema yang bergumul pada “Mangkutak” dan “Parewa”, Rusli bercerita, berkaba, menata tembang pengalaman dari halaman ke halaman. Ia menyimak musim, menantang matahari, bergumul di hutan, bernyanyi di pematang: menyatu dengan alam..

***

HALUAN, 04 Desember 2011

Nb : gelar "Parewa" biasa ditujukan  pada sampah masyarakat ( pemabuk, penjudi dan sebagainya )

Sabtu, 16 Juli 2011

kenanga

lihatlah ini nasibku
peras air mata basahi jemariku
jari jari yang mencakar awan awan beku
hingga luka kaku membatu
anginpun berbisik merayu
aku diam saja, tertunduk malu

wahai kenanga
inilah langit jinggaku
didihkan darahku
rebus jantung dan hatiku
saat diri mu berlalu dan menjauh

hilang tatapan tajam matamu
tiada harum rambut hitammu
bahkan senyumanmu yang dikulum
walau kau tak pernah tersenyum pada ku

sebenarnya entah apa yang ku cari
aku cuma menunggu, kesempatan itu
aku cuma menunggu, senyum manismu
kenanga

Minggu, 10 April 2011

mantra patah hati

baringin bakaik kaik
Daun no sarang rangik
Batuah no dari langgik
Jiko cinto dak bakaik
Gasiang tangkurak dirakik
Jundai nan manjampuik

Kamis, 21 Oktober 2010

cinta mati

Menjadi tubuh dan terbunuh
Mati dan tidak mati,
Siapa yang memiliki tubuh akan terbunuh?

Hanya engkau yang bisa mati,
Hanya dia,
Hanya mereka,
Hanya aku?

Aku tidak bisa mati
Untuk itu aku tak perlu tubuh.
Kematian Anda.
Jalankan sampai mati.

Sehingga.
Sekarang seharusnya berakhir,
Tapi aku tidak bisa berakhir,
Sehingga aku tidak bisa membiarkan hal-hal itu

Karena aku mencintaimu.

Senin, 21 Juni 2010

mimpi buruk

bayang hitam menjaga tiap sudut jahitan angan
lampu lengam dan udara kenyamanan sunyi
membakar retina di lingkaran busa
puas menangisi malam

dan hatiku berjalan
sambil tidur menapaki tiap jeruji janji
oh...
dia telah menjadi mimpi buruk

Senin, 24 Mei 2010

Tak mengerti


Bukannya
aku takut menderita
tak sempurna
tak bahagia
tapi ...!!!

Saat langit memelukku
para bintang memujaku
bulan menjilatiku

kemudian ia mencampakan ku kebumi
genangan lumpur keji
sumpah serapah caci
para kurcaci
binatang berakhiran " i "
oh...

Walau cinta menjerat hati
aku tak peduli
antara hidup dan mati

Jumat, 21 Mei 2010

bila ini adalah dirimu

kenangan sekerasan pantulan retina
berlalu di hadapan ku melewati beludru
benar-benar menyakitkan,namun hangat

terus terang, tidak banyak
buih
mengapung hampiri lumpur
cahaya mu di sana menembusnya

kelabu
warna yang lebih tenang, tapi hujan membentengi hingga ia melepaskan baju pengekang haus dan akan bersih selamanya

Minggu, 18 April 2010

Untukmu dewi (limumu versi)


Campak aku!
Di belantara beludru
antara duri nan paku
kasih mu
seribu malu

telah hisap tetes darahku
nan tak semanis madu

telah robek jantungku
oleh taring mu
selum tiriskan empedu

diatas tungku yang telah mendidihkan air mata akan acuhnya sikap mu

dikau lah dewiku
nan torehkan jingga di ufuk barat
dan siram darah saga di ufuk timur

sedang aku, makhluk dungu yang diterbangkan angin
dan terpaut di lembutnya paras mu
namun dingin dan membatu

alangkah bodohnya aku mencintaimu

Selasa, 29 Desember 2009

tampa judul

sial
aku kehabisan kata
tunduk merenung duka
sial
aku kehilangan kata
tak tahu tulis apa
sial
aku tampa kata
haruskah kau bersamanya
merde
Je suis Ă  court de mots
sous réserve de couvain chagrin
merde
J'ai perdu des mots
ne sais pas quoi écrire
merde
Je suis sans mots
avec lui, vous devriez
mierda
Estoy acabando de palabras
objeto la crĂ­a dolor
mierda
He perdido las palabras
no sé qué escribir
mierda
Estoy sin palabras
con él debe
shit
Ik ben er bijna geen woorden
onderwerp broedsel verdriet
shit
Ik verloor woorden
weet niet wat te schrijven
shit
Ik ben zonder woorden
met hem moet je
shit
Ich bin auch nicht mehr viel Worte
Thema Brut Trauer
shit
Ich habe gesagt
nicht wissen, was zu schreiben
shit
Ich bin ohne Worte
Sie sollten mit ihm
shit
I am running out ta 'kliem
suġġett frieħ grief
shit
I mitlufa kliem
ma nafx x'jipproduċu write
shit
I am mingħajr kliem
miegħu inti għandek

Senin, 23 November 2009

puisi yang hilang

aku hanya cerita
nan tertulis merah
walau bukan darah
antara tukak dan nanah

aku hanya ulir
nan terukir dalam kelam
atas wajan hitam legam
tempaan bara kejam

aku lah dendang
nan usang menua
hilang ditinggal masa
bahkan waktu mengutuk hina

namun sejumput angin
mengalirkan senyummu
dingin memang... membeku
tuak sang perayu
madu

denting palu-palu baja
coba memahat nama-nama indah
atas panasnya bara-bara rasa
walau hanya sesaat

lalu
akan selalu
ku lihat punggungmu
tak berani

selamanya

aku tetaplah aku
yang bersinar dalam gelapku
serta kepakan sayap-sayap beku
terbelenggu

ragu

Rabu, 18 November 2009

Hanya kau kah?

Terbaring, bumi memeluk
oh... Hangat
menjalar, membelenggu
sendi-sendi hati rapuh ku

hanya engkau
mengukung
atas mimpi-mimpi
setiap lambaiyan
akan manis senyuman

tapi
hanya engkau kah?
Menikam ku
meracuni tiap detak nya
hingga akhir nadi

hanya engkau
makhluk terindah
bagiku

Minggu, 11 Oktober 2009

gagak dan sayap kusam

Gagak kelam bersayap kusam
Dengan hangat panas disisinya
Atas debu dari baranya
Terasa mesti tak dimiliki

Gagak kelam bersayap kusam
Terang gelap hidupnya
Atas sepi dari malamnya
Kilau gemilau yang sepi

Gagak kelam bersayap kusam
Arus terus mengalir alamnya
Atas langkah langkah patahnya
Walau hidup bagai mati

Tak berani
Lompati bumi
Mesti sang waktu mengutuk
Pergi !!!

Kamis, 20 Agustus 2009

ku tau kau tau

ku tau Kau tau
hatiku selembar kertas
rangkaiyan kata kata indah
memuji diri Mu

ku tau Kau tau
hidupku akan cintaMu
napasku sambung menyambung
belaiyan hangat sayangMu

ku tau Kau tau

tampa ku tau Kau tau
aku mengkinyanati cinta itu
kufur membutakan mata ku
akan rahmat Mu

walau mulut berkata cinta
hati tenggelam rindu
tangan kaki tidak
dan ku sadari itu

ya Allah, ya tuhanku
dimana tiada selain diriMu
tiada tidur menyentuh zat Mu
lelah tak mengenal diri Mu

maafkan aku
telah ingkar
akan janji cintaku

( marhaban ya ramadan )

Selasa, 30 Juni 2009

Lanun


biarkan tabuh ini mendetak
mesti lara menabur benih luka
dan surya meneteskan senyum jingga
di riak telaga nanah

oh bunda ...
kau nyanyikan tembang duka
balut simponi cita

merasuk tiap detak jantungku
antara darah dan limpa

memenuhi hatiku
antara wajah wanita cantik lainnya

untuk tambur yang kau tabuh
tenggelamkan semua kapal mereka
robek semua bendera itu
saat ku tancapkan panjimu

Jumat, 26 Juni 2009

Fire dance



yaa ... ha!
réunira de nouveau à l'événement, nous
spectacle la danse est très chaud ...

peu Ă  peu
pigeon gris commencer
douloureux deuil
des milliers d'aveugles

la blonde tease
ondulation arrondi
perturber les charpentiers Threnody
subduct stade de chaleur

voir dansé
souple waff
culte lécher
maître de rugu
bossu noir ... ?

Minggu, 21 Juni 2009

soza mania

nyayikan soza pada
yang menari menyambut hujan
nyayikan soza pada
yang sediri tampa sepi
nyayikan soza pada
yang mengerti hentakan ini

mesti
temggelam mentari
muntahkan jinga
antara senyum sinis sang peri
nan tak seindah ujung mata

oh.. biru
bila tangis bagian nasipmu
hentakan lara nadamu
soza bukan bagian mu

soza hanya segumpal asap ini
bagai rindu yang diisap pecandunya
pemilik sepi di ujung jingga
dan berdiri tegar
menyambut sang bunda malam

bunda malam
pelan
pelan
telan
telan
sang peri

peta tamuku

Powered By Blogger