Imagine there's no your girl, so it's happy if you try


Senin, 24 Agustus 2026

cinta terlarang versi AI

Di balik gerbang batu Kerajaan Arunika, senja selalu jatuh lebih lambat.

Cahaya keemasan menyusup melalui lengkung-lengkung tua, menyentuh dedaunan, menara kuil, dan dua insan yang seharusnya tidak pernah berdiri sedekat itu.
Arka adalah putra seorang panglima dari wilayah utara—lelaki yang dibesarkan untuk memegang pedang, menjaga kehormatan, dan membenci kerajaan di seberang sungai. Sementara itu, Kirana adalah putri bangsawan dari Arunika, negeri yang selama puluhan tahun berseteru dengan tanah kelahiran Arka.

Mereka pertama kali bertemu di reruntuhan gerbang kuno.

Kirana sedang melarikan diri dari rombongan pengawal yang mengiringinya menuju istana. Hari itu, ayahnya telah menjodohkannya dengan seorang pangeran dari kerajaan tetangga demi mengikat perjanjian damai. Ia tidak ingin menjadi segel hidup bagi kesepakatan yang tidak pernah ia pilih.

Arka menemukannya bersembunyi di balik pilar batu.

“Jika kau berniat menyerahkanku kepada pengawal,” bisik Kirana, “lakukan sekarang.”
Arka menatap wajahnya. Ia mengenali lambang keluarga di jubah merah tua perempuan itu. Lambang yang sejak kecil diajarkan kepadanya sebagai tanda musuh.

Namun pedang di pinggangnya tetap diam.

“Aku tidak pernah menyerahkan orang yang sedang ketakutan,” jawabnya.

Sejak hari itu, mereka mulai bertemu secara sembunyi-sembunyi. Kadang di bawah pohon beringin dekat sungai. Kadang di lorong belakang kuil saat malam menutupi jejak mereka. Arka bercerita tentang pegunungan di utara, sementara Kirana menceritakan taman istana yang hanya boleh ia lihat dari balik jendela.

Mereka tahu hubungan itu mustahil.

Jika keluarga Kirana mengetahuinya, Arka akan dihukum sebagai mata-mata. Jika pasukan utara mengetahui putra panglima mereka mencintai putri Arunika, perang yang hampir berakhir akan kembali berkobar.

Tetapi cinta jarang tumbuh karena diizinkan.

Suatu malam, hujan turun deras ketika Kirana datang ke gerbang tua. Selendang merahnya basah, rambutnya melekat di pipi. Arka segera menggenggam tangannya, seolah dengan begitu ia dapat melindunginya dari seluruh dunia.

“Aku akan dinikahkan tiga hari lagi,” kata Kirana.

Arka terdiam.

“Dengan Pangeran Wira.”

“Aku tahu.”

“Kalau begitu, bawa aku pergi.”

Kata-kata itu membuat Arka menunduk. Ia pernah membayangkan melarikan diri bersamanya—meninggalkan perang, gelar, dan sumpah keluarga. Namun di balik semua itu, ia tahu ribuan prajurit akan membayar harga dari kepergian mereka.

“Jika kita pergi,” katanya lirih, “mereka akan berkata kau diculik. Kerajaanmu akan menyerang utara.”

“Aku tidak peduli pada kerajaan.”

“Aku peduli padamu.”

Kirana menatapnya dengan mata basah. “Lalu mengapa cinta kita selalu menjadi alasan untuk mengorbankan kita?”

Arka mengangkat tangannya, menyentuh pipi Kirana dengan hati-hati. Di bawah cahaya senja yang tersisa, wajah mereka begitu dekat hingga napas pun terasa seperti janji.

“Karena kita lahir di sisi yang salah,” bisiknya.

Kirana meletakkan tangan di dada Arka. Di sana, di balik kain kasar dan bekas luka, jantung lelaki itu berdetak untuknya—bukan untuk raja, bukan untuk perang.

“Aku tidak mau menjadi kenangan,” katanya.

“Dan aku tidak mau menjadikanmu alasan bagi lebih banyak kematian.”

Keesokan harinya, Arka kembali ke perbatasan. Sebelum pergi, ia menyelipkan sebuah belati kecil ke tangan Kirana. Gagangnya terbuat dari kayu tua, diukir menyerupai dua burung yang saling berhadapan.

“Untuk apa ini?” tanya Kirana.

“Untuk mengingatkanmu bahwa kau selalu punya pilihan.”

Hari pernikahan tiba.

Istana dipenuhi kain sutra, bunga melati, dan musik yang terdengar terlalu riang. Kirana berdiri di depan altar dengan pakaian kebesaran berwarna merah tua. Di balik lengan bajunya, belati pemberian Arka tersembunyi.

Ketika pendeta mengangkat tangan dan meminta persetujuannya, suara gemuruh terdengar dari luar tembok.

Pasukan utara menyerbu gerbang.

Pernikahan berubah menjadi kepanikan. Para bangsawan berlarian, pengawal menghunus pedang, dan api mulai menjilat atap-atap kayu.

Di tengah kekacauan itu, Arka muncul di ambang aula. Wajahnya penuh debu, bahunya terluka, tetapi matanya hanya mencari satu orang.

Kirana berlari kepadanya.

Mereka hampir mencapai gerbang ketika Pangeran Wira menghadang bersama para prajurit. Di belakangnya, raja Arunika berdiri dengan wajah murka. Dari arah lain, pasukan utara mulai memasuki halaman.

“Lepaskan putriku!” seru sang raja.

“Dia bukan milik siapa pun!” balas Arka.

Kirana menggenggam tangan Arka lebih erat.

Untuk beberapa detik, seluruh halaman terdiam. Dua pasukan saling berhadapan, menunggu satu perintah untuk menumpahkan darah.

Lalu Kirana mengangkat belati kecil itu.

“Aku adalah putri Arunika,” katanya lantang. “Dan dia adalah putra utara. Jika darah kami membuat kalian ingin berperang, biarkan kami menjadi darah terakhir yang tertumpah.”

Ia menempelkan ujung belati ke telapak tangannya. Arka segera menahannya.

“Tidak,” bisiknya.

Kirana menatapnya. “Aku tidak akan mati demi mereka. Aku hanya ingin mereka melihat bahwa aku memilih.”

Ia kemudian menjatuhkan belati itu ke tanah.

“Aku memilih Arka.”

Keheningan pecah oleh suara pedang yang terjatuh.
Pangeran Wira memandang Kirana lama sekali. Barangkali ia akhirnya menyadari bahwa pernikahan tanpa cinta tidak akan pernah menjadi perdamaian. Perlahan, ia berbalik kepada kedua raja.

“Perang ini,” katanya, “sudah berlangsung lebih lama daripada kebencian kita sendiri.”

Tak ada yang tahu siapa yang pertama kali menurunkan senjata. Namun satu demi satu, para prajurit mengikuti.

Bertahun-tahun kemudian, gerbang batu itu tidak lagi menjadi batas antara dua kerajaan. Ia menjadi tempat orang-orang datang untuk menanam bunga dan mendengarkan kisah tentang sepasang kekasih yang pernah dianggap sebagai ancaman.

Arka dan Kirana tidak mendapatkan kehidupan yang mudah. Mereka kehilangan gelar, rumah, dan keluarga yang tak mampu memaafkan dengan cepat.

Namun setiap senja, mereka berdiri di bawah lengkung gerbang tua—dengan tangan saling menggenggam, menatap matahari yang tenggelam di balik pohon-pohon palem.

Cinta mereka memang terlarang.

Tetapi dari cinta itulah, dua kerajaan belajar bahwa tidak semua batas dibuat oleh takdir.

Sebagian hanya menunggu seseorang cukup berani untuk melangkah melewatinya.

Tidak ada komentar:

peta tamuku

Powered By Blogger