Imagine there's no your girl, so it's happy if you try


Jumat, 16 September 2011

masih ingatkah??

Sore itu Harjat mengebut dengan motor honda cab buntutnya. entah berapa kecepatan motor tua yang belum lunas itu, mungkin hanya alunan musik perkusi dan getaran getaran sahdu dari komponen komponen mesin karatan itu yang bisa menjawabnya. walau apapun kondisi jalan yang menghadang, entah itu lobang hasil dosa para kontaktor pemakan aspal dan kerilil nan hari ke hari kian menganga dan lapar akan perhatian Pemda, atau jalan yang becek oleh genanggan air yang berasal dari akgresi got got mampet buah tangan warga warga yang berfikir selokan adalah temat sampah. semua ia lalui tampa menurunkan kecepatan motornya.

Ia baru saja bisa pulang kerja, setelah berhasil memdapat ijin pulang setelah bersusah payah merayu Chia kim pengawasnya yang juga jatuh hati padanya. namun yang ia pikirkan saat itu hanya satu, apapun yang terjadi ia harus cepat sampai kerumah. hari ini hari penting, bagi dua orang yang teramat penting dalam hidupnya. meskipun rasanya berat hatinya menerima keadaan ini, andaikan saja ia tidak malu ingin rasanya ia berteriak sekeras kerasnya atau pun menangis sejadi jandinya.

akhinnya motor buntut kreditanya itu menuntunnya mendarat di sebuah rumah yang berada di sebuah gang sempit.
" aduh jat kok kau baru pulang, acaranya sudah dimulai dari tadi" ujar seorang wanita paruh baya bermata sipit.
"saya baru dapat ijin taci (panggilan tante di masyarakat keturunan melayu cina)" jawabnya.
"o..yasudahlah sana masuk, dari tadi kau sudah ditunggu di dalam" balas perempuan lima puluh tahunan itu

begitu ia masuk ke rumah nan penuh sesak oleh tamu itu, seorang wanita menemuinya.
"maaf ya Putri aku telat!" serunya pada wanita bergaun merah dan berhiyasan pernik pernik keemasan itu.
sambil tersenyum perempuan itu menjawab," ha..yo, kok masis manggil Putri, sekarang kau kan sudah jadi adik iparku"
ya, sebenarnya ia tau, cuma hatinya tidak bisa terima, gadis yang ia idam idamkan selama ini harus menikah dengan kakaknya sendiri.
selesai

Tidak ada komentar:

peta tamuku