Imagine there's no your girl, so it's happy if you try


Senin, 05 Desember 2011

MANGKUTAK DI NEGERI PROSALIRIS

KESUKUAN DAN LIRISISME “PAPA” :

SEKUMPULAN PUISI MANGKUTAK DI NEGERI PROSALIRIS



Oleh : Andhika Dinata





“ketika penyair menyatukan dirinya dengan alam sambil berdialog, kemudian terjadi keakraban. Batinnya luluh jadi alam itu sendiri. Ia jadi alam itu sendiri”.

-- Rusli Marzuki Saria





MANGKUTAK adalah sebuah tokoh kaba Minangkabau yang populer dalam cerita rakyat “Sabai Nan Aluih”. Mangkutak adik bungsu Sabai, seorang bujang pemalas, kerjanya setiap hari bermain layang-layang. Kehadiran Mangkutak telah dikaba-beritakan, dipentaskan dalam banyak tradisi dan pertunjukan. AA Navis, Wisran Hadi, Hamid Djabbar bisa disebut tokoh budaya yang paling gemar melakonkan “Mangkutak” dalam epika karyanya. Nah, penyair Rusli Marzuki Saria juga turut meramaikan ikon Mangkutak, tokoh kaba Minangkabau yang cukup tersohor itu. Lewat karya puisinya Rusli memberi cerminan bahwa Mangkutak layak diekstradisi ke dalam tokoh prosais. Lewat itu pula ia meretas buah karya “Mangkutak di Negeri Prosa Liris”.



Dalam bait puisi Rusli berniat melanjut dan memuat kaba Mangkutak dalam larik puisi. Intensitas Mangkutak yang ditokohkan tak sedikitpun berkurang. Sosok Mangkutak tetap digambar sebagai tokoh yang gemar bermain layang-layang, pagi sore menghabiskan waktu di teras halaman, mabuk kuda melajang bukit di terik nan siang. Nah, kekuatan ide –dengan tidak mengurangi keasliannya– diraba, disorot, diasah Rusli dalam puisinya itu. Kehadiran Mangkutak yang semula menjadi ikon tokoh yang “pincang karakter” ditaja dalam sudut pandang berbeda. Hadirnya Mangkutak digambarkan sebagai tokoh periang, jenaka, dan inspiratif.

aku simangkutak pulang petang. setelah bermain layang
layang
seharian. awan kelabu terbang rendah di kaki perbukitan
nun
di sana. lama kucari jejak di pematang gelanggang
alangkah
ramai
 semusim tuak tua semusim aduayam silangkaneh
alangkah
ganasnya
sabai, sabai..., sabai...
.........................

 [“mangkutak”, 1997]



Hadirnya Mangkutak yang hantu layang-layang menyimbolkan sesosok muda yang tangkas, penuh kegairahan, acuh dari kegundahan, dan belenggu persoalan. Entah dalam tatanan realita sosok itu ada atau tidak, namun kehadiran Mangkutak di Negeri Prosaliris sepertinya menarik untuk dibahas.

*
Kesukuan dan lirisisme sajak-sajak Rusli lebih banyak berbincang pada suara alam: ringkik kuda, padang ilalang, rona hutan dan kebun sawit. Kedekatannya dengan alam dipetik dari falsafah Minangkabau “Alam Takambang Jadi Guru”. Alam yang lebar tercipta untuk dimaknai hadirnya, diresapi karsanya, direlung batinnya. Corak lirik yang ditulisnya tidak tanggal dari tradisi dan unsur-unsur “keminangan”. Membaca sajak-sajaknya seperti menyibak alam Minangkabau. Keindahan sawah nan lapang, lurah nan dalam, alam nan lebar, bukit nan tinggi.

gelagah padang ilalang
jauh mata memandang sawah lapang
gumam tengahhari matahari terik
rambutmu tergerai pantun menyimpan larik

[“gelagah padang ilalang”, 1998].

Membaca sajak-sajaknya juga seperti menggerus sejarah masa lampau. Kenangan yang lalu, tembang yang syahdu.

mengembara di setiap lembah
tanah airku
tanah airmata bunda
kutimba airmu di telaga jernih gunung
musim datang berganti
kau juga setia berdiri dekat kandang
aku rindu jenderal soedirman yang ditandu
membaca lagi laporan dari banaran
surat-surat dari naira
renungan indonesia sjahrazad
di bawah bendera revolusi
madilog yang lahir dari minangkabau masa lampau
.........................

 [“rindu one jo abak”, 2002]

Ciri khas dari Rusli yaitu penggambaran sajak yang dekat dengan diri-nya. Rusli bercerita, berkaba, menata tembang pengalaman dari halaman ke halaman. Ia menyimak musim, menantang matahari, bergumul di hutan, bernyanyi di pematang: menyatu dengan alam. Dari alam itu ia memungut kata. Dari kata terpijarlah estetika. Kata dan estetika sengaja dicari dan dikembangkan lewat nalar kreatif. Intuisi penyair. Nyaris tak ada batas antara penyair – alam – dan intuisinya itu. Rusli membuka jarak lebar-lebar dengan alam dan apa yang ada di dalamnya. Hadir di kebun sawit ia menulis “aku rindu bansi menjerit di kebun sawit”, bergumul di hutan ia menulis “kau kijang aku rusa”, menyoal sengketa ulayat ia menulis “seorang petani membawa luka”, di meja hidang sekalipun ia menulis “meja makan malam kedai nasi padang”.Sajak-sajaknya berumah dan melimbubu dari teks situasi, imaji, dan pengalaman-pengalaman itu.

“di negeri prosa liris” (1999) ia bergumam enam puluh tiga tahun usia, dan kata, baginya, terbungkuk membawa beban pengertian. Arus modernisasi telah merambah ladang, sawah, dan hutan si mangkutak. Pelan dan perlahan kemajuan pola pikir dan arus modernisasi menjelma pagoda raksasa yang tak lagi dapat dibendung. Angka statistika penduduk bergerak linear berderet-berjejer-berputar sepanjang waktu. Populasi orang memadat dan mendesak dalam ruang. Dan si “mangkutak” yang telah terjamah era moderat tetap hadir sebagai sosok yang rindu bunyi saluang dan rabab. Ia tak tergusur roda zaman, angin globalisasi, kemajuan ekonomi, dan modernisasi yang canggih dan hebat.

di negeri prosaliris aku bergumam enampuluhtiga
tahun dan kata
kata terbungkuk membawa beban pengertian
nenekmoyangku
teruka ladang dan sawah industri entah di mana. lalu
engkau
menghafal buku buku ekonomi negara maju dalam
semalam acara
global masuk kamar lewat televisi. kamar kamar
sumpek bagai
sarang kepuyuk seperti ratusan juta penduduk negeri
ini. barangkali tuan malthus saja tersenyum
di negeri prosaliris aku bercinta dengan seksama lalu
jadi
sentimentil pada saluang dan rabab
.........................

 [“di negeri prosaliris”, 1999]

Dalam “aku tulis namamu” (1997) kita temukan rekaman imaji Rusli dari pengalaman hidup yang keras dan cadas. Sebagai mantan perwira polisi (Brimob) ia akrab dengan desis suara bazooka memecah panser di medan pertempuran. Rusli muda juga pernah merasakan getirnya perjuangan, suasana militer yang mencekam, namun sarat makna persaudaraan. Rekam peristiwa historik itu diurainya dalam snapshot ini.

aku tulis namamu dalam simbolik zamanku yang berat
di penghujung abad ke-20 sebentar lagi tamat
denyut jantung erangan nafas dan mata pemberontak
terbeliak di tapal batas kehidupan sehari-hari yang berat
aku kenal kamu di benteng terakhir perang saudara
ketika peluru bazooka memecah panser di lembah itu
.........................

[“aku tulis namamu”, 1997]

**
 “belajar duduk seperti alif bata” kita menyibak aspek ruhani sufistik. Sajak seperti ini mengingatkan kita pada karya besar sufi Jalaluddin Rumi dan Farid al-Din Attar. Rusli bertasawuf diri lewat karya puisi. Tasawuf diartikannya sebagai inti hakikat. Ia ingin duduk seperti alif: duduk-berdiri. duduk-berucap, duduk-bersujud, duduk-membumi, duduk-melebur dengan Yang Maha Esa, pemilik Cinta Yang Agung.  Rusli merindu semua itu, ia ingin merelung, melepas diri dari belenggu menuju alam kesejatian.

belajar duduk
seperti alif bata
menghadap mihrab

ambil pisau
putus tali tali
pisahkan
rohani
manusiawi.


 [ “belajar duduk seperti alif bata”, 1982]

Sajaknya yang lain “dari musdalifah bergetar perjalanan malam” ditulisnya dalam perjalanan spiritual menuju mina-musdalifah-arafah. Ia menulis di saat terik matahari membakar kulit membungkus api perjalanan. Tak ada yang tersisa selain kata: lelah dan lelap.

dari musdalifah bergetar perjalanan malam
mengikuti jejakmu menuju mina yang terbakar
bintang gemintang langitmu biru aku seperti tidak tahu
pada lelah. batinku terbakar diembus nafasmu berabad
abad
datang menjelang leluhur kami di timur namanya sumatera
terlintas syari’ati mendaki bukit bukit batu yang tidak
pernah
takluk. adabiah al adabiyah telekung ganih zaman
sangsai
.........................

[“dari musdalifah bergetar perjalanan malam”, 1997]

Rusli dengan kenangan dan tembang-tembangnya menyisir pantai, menyibak rumah-rumah kehidupan. Ia luluh dalam gelap. memancar dalam terang. menggetar dalam dentuman, menghanyut dalam renungan. Dalam gelap, dalam terang, dalam dentuman, ia memuisi dan merona, berjibaku dengan monolog-monolognya itu. Kita lihat pada bait

aku ingin benar melupakanmu. di gelap cahaya
dan angin menusuk lambungku ngilu. sebuah drama
tragik aku ingin lusuh bersamanya. tempohari aku
betul rapat denganmu seperti daging dengan kuku
lalu kita berbenah dan berumah di pantai sana
.........................

 [ “aku ingin benar melupakanmu”, 1999]


Sajak yang ditulis di usia senja tak menunjukkan penurunan kualitas atau kadar kebernasan. Rusli sama sekali tak menunjukkan “kepapaan” dalam menulis dan berkarya. Bahkan di sela kesenjaannya ia masih bisa mengukir lirik romantik seperti dalam “aku bayangkan kamu” (1998).

aku bayangkan kamu di tingkat dua
kamar perpustakaanku
beranda senjahari
angin lindap terlintas
rambut nafasmu sesak sampai batas
cakrawala jauh
cerca terpaan paling terkena dalam hidup kita
ketika sebuah kejujuran terungkap jendela terbuka
kita diam. menarik diri masing-masing
.........................

atau bait “aku mengenangmu kembali di suatu pagi” (2007)

aku mengenangmu kembali di suatu pagi
kemarau barangkali kan panjang karena kulihat
awan memanjang
pematang kita yang lurus jemarimu yang kurus
adakah igau dalam kokokayam penghabisan
erang nafasmu sepanjang subuh gemintang
.........................

“ketika penyair menyatukan dirinya dengan alam sambil berdialog, kemudian terjadi keakraban. Batinnya luluh jadi alam itu sendiri. Ia jadi alam itu sendiri”. Rusli benar-benar membatin dalam filosofinya itu. Tak banyak yang setia berkarya hingga terus dan lama. Ia salah satu yang tetap ada. Adanya “Papa” Rusli Marzuki Saria di perpuisian nusantara telah menorehkan warna bahwa dunia puisi dan persajakan tak harus lengang dari prinsip-prinsip kebudayaan. Ia (justru) hadir untuk meramaikan khazanah budaya lengkap dengan unsur-unsur pengayaan yang ada di dalamnya.

Sebagai penyair Minang, Rusli telah berhasil mengangkat tatanan tradisi dan “keminangan” yang kuat. Lewat tema yang bergumul pada “Mangkutak” dan “Parewa”, Rusli bercerita, berkaba, menata tembang pengalaman dari halaman ke halaman. Ia menyimak musim, menantang matahari, bergumul di hutan, bernyanyi di pematang: menyatu dengan alam..

***

HALUAN, 04 Desember 2011

Nb : gelar "Parewa" biasa ditujukan  pada sampah masyarakat ( pemabuk, penjudi dan sebagainya )

Tidak ada komentar:

peta tamuku