Imagine there's no your girl, so it's happy if you try


Kamis, 25 Februari 2010

Dust on tsuki

Anggap saja ini hanya cerita yang biasa kita anggap omong kosong, tapi entah kenapa aku ingin kisah ini. Jadi hendaklah para pembaca sekalian tidak memperdebatkan kebenaran cerita ini.

Cerita dimulai dimana saat seorang pemuda bangun dari tidurnya, dan sedikit demi sedikit megumpulkan kesadarannya. Ini bukan tidur tapi pingsan, pikirnya. Bahkan dia tak tahu kapan ia mulai tidur, yang ia tahu hari telah larut malam dan perutnya amat lapar. Ia keluar dari kamar kostnya, mencari apa saja yang dapat menahan pembrontakan dalam perutnya itu.

Selankah demi selankah dia telusuri gank kecil penghubung rumahnya kejalan raya. Sekali-kali angin dingin berhenbus dari selatan gank becek itu, tapi itu semua tak menghalangi langkahnya demi menutup rasa lapar, demi sepiring nasi goreng dan segelas teh mawar hangat. Hingga ia melewati sebuah tanah kosong yang berupa rawa-rawa yang ditumbuhi sejenis talas dan berbagai macam kangkung air. Memang dalam sehari hari ia sering melewati tanah kosong tersebut, tapi itu bukan malam hari. Secara geologis tanah kosong tersebut diapit sebuah rumah kosong dan gudang milik wak leman yang meningal di bunuh rampok seminggu sebelumnya, dan meninggalkan semua warisannya termasuk tanah kosong tersebut untuk putranya yang bekerja di sebuah perusahan jepang di mounten view, amerika serikat.

Berbeda dengan geologinya, secara mitologi tanah itu dulunya di anggap sarang para makhluk halus yang kemudian diambil alih seseorang tentra jepang bernama aribeki hiyoshimaru yang kemudian berubah nama menjadi haji ibrahim yoesoef ( bapaknya haji moestafa soelaiman/ wak leman ). Dan kabarnya tanah kosong tersebut masih angker hingga keluarga wak leman tak berani mendirikan bangunan di tengahnya.

Tentu saja ini yang membuat sang pemuda itu sedikit gentar ketika harus melewakinya, sehingga ia mempercepat langkahnya. Jantungnya berdetak kencang ketika tiba tiba ia mendengar langkah kaki mengejarnya, dan menangkap bahunya. Dia pasti pinsan kalao saja tak mendenar " dompemu jatuh nak !". O...ternyata hanya seorang kakek kakek.
" terima kasih kek" katanya dan ia pun meneruskan perjalanan dengan lega. Tapi setelah beberapa langkah ia sadar, mungkin kakek tersebut membutuhkan bantuan, hingga keluar di tengah malam seperti dirinya. Namun ketika ia menengok kebelakang, sudah tidak ada siapa siapa lagi...

Thd end

Tidak ada komentar:

peta tamuku